By Bransia
Traveling part of human life, which raised a refreshing destination at the aspect of spirit. Developed countries realize this, thus making tourism facilities. Besides tourism, also to solve many problems facing the nation. It is evident that tourism can increase the resilience of all aspects of life in many countries. If you look at the geographical aspects of the layout of Indonesia is very strategic and original nature so rich, ranging from 'Lake Toba', until the Jaya Wijaya mountain with eternal snow potentially become one of Indonesia's development keywords. Therefore, approximately 20 potential areas for use as a domestic tourist and foreign tourist. In terms of culture, has many kinds of tribes that can offer as a tourist attraction as described track Greeting to you Indonesia. For example, a potential area for tourism industry is simulajadi Toba region of North Sumatra, in which there are lakes and islands, as well as agriculture and protected areas for Geotourism and functioned as a very popular ecotourism.
Through modern technology, aerial photographs, the area is like painting a fantastic world that used to be a wonderful natural attractions for the level crossing in particular. Similarly, referring to geological events, it is very special because it happened from the Lake Toba eruption of a volcano high, broad and active millions of years ago. End of the explosion turned into a lake, island and mountain edge many beautiful hills, and rich rocks proper incision was introduced to the international world to reap dollars.
Monday, September 14, 2009
Indonesia Tourism Prospect
Posted by PODOTEKOO at 5:50 AM 0 comments
Saturday, August 15, 2009
Alternative Energy transfer of technology, it is very important
Pikiran Alih tehnolgi Energy Alternative, sangat penting
by Dr. Ramli Sitanggang
Preambul UUD 1945 alinea 4 menegaskan bahwa didirikan NKRI bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkaitan dengan hal ini, kemajuan negara sangat dipengaruhi oleh kemampuan menguasai dan memanfaatkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Untuk kepentingan pencerdasan seluruh rakyat bangsa ini, perguruan tinggi menjadi sarana efektif guna kepentingan pecerdasan tersebut. Perguruan tinggi diharapkan secara intensif dan aktif berinteraksi melakukan pengabdian masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagaimanapun juga perguruan tinggi menjadi salah satu ikon tempat tersimpannya ilmu pengetahuan, dan di tempat itulah tersimpan informasi penelitian terkini. Tentu saja setiap informasi hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan bagi kepentingan sosial. Dalam hal ini, perguruan tinggi tidak mempunyai sifat eksklusif, tetapi, selalu terbuka untuk publikasi atas temuan-temuannya. Sudah barang tentu, hasil penelitian itu mustinya selalu dipublikasikan oleh perguruan tinggi agar terserab ke masyarakat.
Ada banyak penelitian-penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan walaupun kadang kala masih tahap awal yang memerlukan dukungan, terutama sekali untuk memotivasi keberlanjutannya sampai dapat diabdikan kemasyarakat.
Contoh penelitian perguruan tinggi yang boleh dikatakan akan bermanfaat dimasa yang akan datang, adalah penelitian tentang tehnologi fuel cell. Penelitian tehnologi ini haruslah berkelanjutan, agar benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Tehnologi alternative fuel cell ini dapat dipergunakan untuk pembangkit listrik. Ini adalah tehnologi pembangkit listrik yang dihasilkan oleh proses kimiawi tertentu. Pesoalan tehnologi ini masih tergolong mahal untuk sekarang ini. Perlu diadakan penelitian lanjutan agar mencapai tahapan yang paling murah. Ini adalah kuncinya. Persoalan ditemui di perguruan tinggi, adalah penelitian masih berjalan di penelitian dasar tentang tehnologi alternative fuel cell.
Ini berbeda dengan penelitian fuel cell yang sudah dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi di N`egara-Negara maju. Arus perhatian perguruan tinggi sudah sangat serius dan intens. Hasil penelitian tentang tehnologi ini dipandang sangat prospek mengatasi persoalan penggantian bahan bakar berbasis minyak fosil di masa yang akan datang. Universitas California misalnya, lembaganya yang bernama National Fuel Cell Reserch Center telah melakukan berbagai penelitian komprehensif tentang fuel cell, dan sekaligus tehnologi penghasil hydrogen sebagai bahan bakarnya. Lembaga tersebut dan lembaga Negara maju lainnya sudah sering mempublikasikan hasil penelitiannya melalui pameran-pameran mempertontonkan tehnologi fuel cell. Haruslah diakui bahwa pihak-pihak swasta sangat tertarik dengan hasil penelitian ini. Tidak jarang, ketertarikan pengusaha besar terhadap tehnologi fuel cell ini, menghasilkan sebuah kerjasama yang potensial untuk pengembangan lebih lanjut, bahkan sampai kepada perakitan di jenjang yang lebih riil berupa mobil tehnologi fuel cell. Ada banyak perusahaan-perusahan swasta yang telah merakit sebuah kendaraan roda empat bertehnologi fuel cell sebagai hasil dari absorbsi pengetahuan yang telah dilakukan.
Pada dasarnya, tehnologi ini sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia di masa depan. Pasalnya, tehnologi fuel cell, dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar hydrogen yang jika diproduksi secara besar-besaran akan jauh lebih murah ketimbang bahan bakar berbasis minyak bumi, seperti bensin, solar, dan lain sebagainya. Tentu saja keunggulan lain dari tehnologi ini, seperti ramah lingkungan. Mengapa dikatakan ramah lingkungannya? Karena pembuangan dari kendaraan bertehnologi ini berupa zat cair yang setara dengan air bersih. Adapun keunggulan yang lain adalah bahan bakar yang digunakan berupa hydrogen yang stok sumber daya alam untuk itu sangat berlimpah ruah diindonesia. Di samping itu, satu hal yang perlu dicatat bahwa material inti pembuatan tehnologi fuel cell ini banyak terdapat di Indoneisia. Artinya, Negara ini menjadi sangat potensial untuk produksi tehnologi ini, bahkan dapat memproduksi material inti tersebut dalam jumlah yang cukup banyak. Berdasarkan uraian yang terakhir itu, peran perguruan tinggi menjadi sangat pe nting. Disisi lain, penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi saat ini masihlah berada di tataran tangga pertama yaitu penelitian dasar. Pada hal, penelitian dasar tentang fuel cell saat ini sudah tidak dimungkinkan lagi untuk mengejar ketertinggalan. Aliran penelitian yang dilakukan oleh Negara maju sudah sampai kepada tangga yang lebih tinggi yaitu untuk kepentingan komersial. Artinya, jika perguruan tinggi masih berkutat di tangga pertama, maka akan menghabiskan waktu, dan bisa jadi, ketika penelitian sudah dilakukan sampai anak tangga tengah, maka perguruan tinggi di Negara maju sudah sampai di anak tangga paling atas. Jika hal itu terjadi, maka sangat penting untuk diperhatikan bahwa Indonesia akan menjadi pasar yang empuk untuk penjualan tehnologi berbasis fuel cell.
Gerak langkah perguruan tinggi harus mampu menekan ketertinggalan ini sampai derajat terendah. Pada dasarnya, pra-kondisi yang selaras dibutuhkan untuk menekan ketertinggalan itu. Tentu saja perguruan tinggi tidak dapat berdiri sendiri untuk mengatasi soal ketertinggalan ini. Perguruan tinggi memerlukan pihak-pihak lain, seperti Kementrian Pendidikan (diknas), Pemda, Swasta, dan Lembaga Penelitian lainnya. Sinergisitas antar berbagai pihak itu mempermudah langkah bagi perguruan tinggi membuat sebuah pendekatan baru guna meneliti tehnologi alternatif fuel cell ini setaraf dengan anak tangga di Negara Negara maju. Apa yang harus dilakukan?
Hasil sementara pengembangan tehnologi alternative fuel cell di Negara maju, sudah mampu menghasilkan energy listrik berdaya 100 KWatt, bahkan ada yang sudah mampu membuat fuel cell jenis oksid pada sekala MWatt. Ini menunjukan penelitian dasar tidaklah cukup menyamakan derap langkah dengan hasil penelitian di Negara Negara maju. Alih tehnologi ini dapat menekan ketertinggalan ini. Mengapa? Setelah perguruan tinggi yang didukung oleh elemen-elemen tersebut di atas membuat terobosan alih tehnologi, maka konsentrasi penelitian berubah, yaitu berada di level pengembangan tehnologi fuel cell jenis oksid pada skala MWatt misalnya. Artinya, penelitian langsung dapat dimulai di tataran yang sama dengan penelitian yang sudah dikerjaan di Negara Negara maju. Barangkali, langkah selanjutnya berkisar pada pengembangan desain fuel cell baru yang lebih hemat dan lebih murah. Hal ini juga merupakan masalah yang sedang dihadapi, dan dicarikan pemecahannya di Negara maju. Adapun demikian, paska alih tehnologi proyek garapan penelitian perguruan tinggi berkisar pengembangan tehnologi alternative fuel cell untuk kepentingan efisiensi. Ini berarti pengembangan fuel cell di perguruan tinggi di Indonesia dapat berdaya saing.
Dengan cara ini, akan menghemat biaya pembangunan teknologi fuel cell. Langkah alih tehnologi ini sangat penting dilakukan se-awal mungkin sebagai upaya mengantisipasi terjadinya proteksi teknologi yang akan dilakukan oleh Negara maju. Untuk itu, perlu sinergisitas berbagai pihak (dalam hal ini adalah Perguruan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Pemda, Swasta, dan Lembaga Penelitian lainnya) agar duduk bersama menyatukan pikiran untuk membuat pendekatan yang mendukung pengembangan tehnologi fuel cell. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 2005 Tentang Alih Tehnologi, sangat dimungkinkan pihak-pihak tersebut untuk bekerja sama melaksanakan program penelitian dan pengembangan tehnologi alternative fuel cell.
Posted by PODOTEKOO at 7:04 PM 0 comments
Wednesday, August 12, 2009
Creating opportunities in the area? for higher tridarma It is Important
by , Herianto, Ph.D
Perubahan dalam bentuk apapun dan di sektor apapun, tidak dapat meninggalkan Tridarma Perguruan Tinggi sebagai landasan berpikir memajukan Perguruan Tinggi. Perubahan itu haruslah mengacu pada prinsip-prinsip itu. Jika tiap perubahan selalu berdasarkan Tridarma Perguruan Tinggi, maka setiap tawaran konsep perubahan perlu dicocokkan dan dilihat relevansinya. Ini membutuhkan kesadaran evaluatif untuk memperhitungkan secara akurat manfaat yang mungkin diperoleh. Dalam konteks ini, boleh kiranya kita singgung kembali, bahwa salah satu faktor yang perlu dikrieit pada pembangunan sense of belonging Perguruan Tinggi kedepan ini adalah semangat membangun iptek daerah sebab, kemajuan iptek Perguruan Tinggi sangatlah mendukung out comer SDM dapat berperan aktif meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kualitas perguruan tinggi.
Beberapa indikasi sering diungkapkan bahwa secara umum masyarakat di daerah masih tertinggal tingkat kesejahteraannya, karena SDM nya lemah dalam menghasilkan karya yang inovatif dan pengetahuan tentang tehnologi terapan masih relatif kurang. Salah satu faktor penting, adalah tingkat penguasaan iptek untuk ketersediaan teknologi. Baru baru ini tim kerja salaha satu perguruan tinggi di Yogyakarta melakukan kunjungan ke Kalimantan. Ternyata daerah yang dikunjungi mempunyai struktur geologi yang memiliki sumber daya alam potensial seperti batu bara, bauksit, pertanian dan sebagainya. Dengan kondisi ketersediaan teknologi sekarang ini tidak memungkinkan target pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam tersebut dapat tercapai. Dalam konteks ini, ternyata daerah perlu “penyediaan teknologi” yang dapat mengatasi persoalan tersebut. Nah, disinilah, Perguruan Tinggi memiliki peluang untuk mengkrieit Master Plant Teknologi Pembangun Daerah yang mantap yang dapat digunakan sebagai acuan pembangunan berkelanjutan, sekaligus memenuhi tridarma perguruan tinggi. Mengapa Perguruan tinggi ? Pemerintah daerah mempunyai keterbatasan dalam sarana dan pra-sarana mewujudkan visi iptek daerah yaitu “terwujudnya teknologi daerah”, sehingga langkah yang fokus dan strategis dari pemerintahan daerah memerlukan dunia pendidikan yang berbasis iptek. Ini logis sebab, dunia pendidikan sangat relevan dan sensitive dengan langkah ideal yang dipandang sangat mendesak, yaitu langkah yang harus dilakukan segera (urgent) untuk kelangsungan hidup (survival) masyarakat; dan langkah yang penting (important), yaitu langkah yang strategis untuk kemandirian suatu daerah.
Dalam kaitan ini, tentunya Perguruan tinggi mampu memformulasikan acuan pembangunan daerah yang sesuai dengan RTRW daerah. Tentu saja, ada tiga hal yang perlu divisualisasikan untuk menciptakan peluang tersebut, yaitu penawaran pemahaman dalam bentuk sosialisasi yang lebih mendalam pada masyarakat dan pemerintah di daerah bahwa Perguruan Tinggi gudang pakar iptek yang dapat dimanfaatkan oleh daerah. Yang kedua adalah membuat skenario teknologi daerah yang dapat memberikan jaminan kemajuan daerah dengan berpegang teguh pada tridarma tridarma Perguruan Tinggi. Yang ke tiga, pendekatan yang konkrit dengan daerah untuk bekerja sama dengan dunia pendidikan Perguruan Tinggi yang berbasis iptek dalam pencapaian visi pemerintah daerah yang sudah tertuang dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW). Tentu saja pendekatan ujud nyata kerja sama tersebut adalah penyediaan teknologi daerah dengan Technology Roadmapping (Peta Jalan). Konsep ini berdasarkan pertimbangan gugus kerja yang meliputi projek penyediaan teknologi pengelolaan SDA daerah. Gugus kerja tersebut mengidentifikasi teknologi daerah yang tepat melalui Penelitian, Pengembangan dan Penerapan (litbangrap) iptek. Di sini litbangrap iptek dijadikan sebagai elemen kunci menemukan teknologi pengelolan sumber daya alam, dan pengelolaan lingkungan dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi.
Posted by PODOTEKOO at 7:42 PM 0 comments
Saturday, August 8, 2009
Masihkah sektor BBM ?
By. Shahri M, P.hD
Langkah awal trobosan ini adalah pengadaan teknologi energy alternatif. Kenaikan BBM, adalah momentum tepat pergantian basis itu. Dan, saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif dengan cara tertentu.
Idenya begini. Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar alternatif, dan ke dua, teknologi energi dengan bahan bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan. Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi yang bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM. Ini berarti “pengadaan teknologi itu”. Karena kondisi ini bukan hanya untuk Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang tinggi. Disisi lain, peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah panjang harus diadakan dengan perhitungan super cermat.
Posted by PODOTEKOO at 11:55 PM 0 comments
Toyota Highlander gets 68 miles per... kilogram of hydrogen
By David Biello
That compares very favorably to the 2009 hybrid Toyota Highlander presently on the road, which gets 26 miles per $3.25 gallon of gasoline. The test encompassed a range of driving conditions, from high-speed highways to stop and go on the surface streets of Los Angeles and relied on gas tanks that stored 6 kilograms of hydrogen at 70 bar pressure (10,000 pounds-per-square-inch).
The Obama administration is not impressed with advances towards a hydrogen economy for cars, though, thanks in part to the exorbitant costs of the vehicles and the missing infrastructure. "We asked ourselves, 'Is it likely in the next 10 or 15, 20 years that we will convert to a hydrogen car economy?' The answer, we felt, was 'No,'" said U.S. Energy Secretary Steven Chu in announcing budget cuts to the government's hydrogen research and development programs back in May of this year.
That hasn't stopped automakers from pursuing a possible hydrogen-car future. In addition to this Toyota test, Honda is leasing its FCX Clarity to a small number of consumers and GM continues to push its Project Driveway, putting fuel cell prototype vehicles in the hands of everyday people, though the executive in charge of it, Larry Burns, will retire later this year as part of that company's ongoing transformation.
Toyota, for its part, seems keen to pursue a range of future technologies for commercial production: hybrids, plug-in hybrids by 2012 and, yes, electric vehicles powered by fuel cells by 2015. "We are proceeding on all these fronts because there is no one solution for future needs, but the need for many," said Toyota President Akio Toyoda in a speech on Wednesday at the Center for Automotive Research's Management Briefing Seminars in Traverse City, Mich. "Because energy solutions that work for Traverse City may not be the best for Shanghai, or Sydney, or Sao Paulo."
http://www.scientificamerican.com/blog/60-second-science/post.cfm?id=toyota-highlander-gets-68-miles-per-2009-08-07
Posted by PODOTEKOO at 11:51 PM 0 comments
Saturday, July 25, 2009
Efforts to Develop Alternative Energy Technology
Upaya Pengembangan Teknologi Energy Alternative
by, Ramli Sitanggang
Preambul UUD 1945 alinea 4 menegaskan bahwa didirikan NKRI bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkaitan dengan hal ini, kemajuan negara sangat dipengaruhi oleh kemampuan menguasai dan memanfaatkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Untuk kepentingan pencerdasan seluruh rakyat bangsa ini, perguruan tinggi menjadi sarana efektif guna kepentingan pecerdasan tersebut. Perguruan tinggi diharapkan secara intensif dan aktif berinteraksi melakukan pengabdian masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan.
Bagaimanapun juga perguruan tinggi menjadi salah satu ikon tempat tersimpannya ilmu pengetahuan, dan di tempat itulah tersimpan informasi penelitian terkini. Tentu saja setiap informasi hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan bagi kepentingan sosial. Dalam hal ini, perguruan tinggi tidak mempunyai sifat eksklusif, tetapi, selalu terbuka untuk publikasi atas temuan-temuannya. Sudah barang tentu, hasil penelitian itu mustinya selalu dipublikasikan oleh perguruan tinggi agar dapat diterserab oleh public.
Ada banyak penelitian-penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan walaupun kadang kala masih tahap awal penelitian. Ini memerlukan dukungan, terutama sekali untuk memotivasi keberlanjutannya sampai dapat diabdikan kemasyarakat. Dengan upaya tersebut, ilmu pengetahuan akan terus melestari dan sekligus terus menerus memberikan efek social.
Contoh penelitian perguruan tinggi yang boleh dikatakan akan bermanfaat dimasa yang akan datang, adalah penelitian tentang tehnologi fuel cell. Penelitian tentang tehnologi ini haruslah berkelanjutan, sehingga benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas. Tehnologi alternative fuel cell ini dapat dipergunakan untuk pembangkit listrik. Ini adalah tehnologi elektrikal yang dihasilkan oleh proses kimiawi tertentu. Pesoalan pemanfaatan tehnologi ini masih tergolong mahal untuk sekarang ini. Oleh karennya, perlu diadakan penelitian lanjutan agar mencapai tahapan yang paling murah. Ini adalah kuncinya. Persoalan ditemui di perguruan tinggi, adalah penelitian masih berjalan di penelitian dasar tentang tehnologi alternative fuel cell.
Ini berbeda dengan penelitian fuel cell yang sudah dilakukan oleh perguruan-perguruan tinggi di N`egara-Negara maju. Arus perhatian perguruan tinggi sudah sangat serius dan intens. Hasil penelitian tentang tehnologi ini dipandang sangat berharga pihak-pihak yang memandang tehnologi ini sebagai tehnologi yang sangat prospek untuk mengatasi persoalan penggantian bahan bakar berbasis minyak fosil. Universitas California misalnya, lembaganya yang bernama National Fuel Cell Reserch Center telah melakukan berbagai penelitian komprehensif tentang fuel cell, dan sekaligus tehnologi penghasil hydrogen sebagai bahan bakarnya. Lembaga tersebut sering mempublikasikan hasil penelitiannya dengan membuat pameran-pameran yang mempertontonkan tehnologi fuel cell yang telah terakit sebagai prototipe. Haruslah diakui bahwa pihak-pihak swasta sangat tertarik dengan hasil penelitian ini. Tidak jarang, ketertarikan pihak swasta terhadap tehnologi fuel cell ini, menghasilkan sebuah kerjasama yang potensial untuk pengembangan lebih lanjut, bahkan sampai kepada perakitan di jenjang yang lebih riil berupa mobil tehnologi fuel cell. Ada banyak perusahaan-perusahan swasta yang telah merakit sebuah kendaraan roda empat bertehnologi fuel cell sebagai hasil dari absorbsi pengetahuan yang telah dilakukan di perguruan tinggi.
Pada dasarnya, tehnologi ini sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak di masa depan. Pasalnya, tehnologi fuel cell, dioperasikan dengan menggunakan bahan bakar hydrogen yang jika diproduksi secara besar-besaran akan jauh lebih murah ketimbang bahan bakar berbasis minyak bumi, seperti bensin, solar, dan lain sebagainya. Tentu saja masih ada keunggulan dari tehnologi ini, seperti ramah lingkungan. Mengapa dikatakan ramah lingkungannya? Karena pembuangan dari kendaraan bertehnologi ini berupa zat cair yang setara dengan air bersih. Adapun keunggulan yang lain adalah bahan bakar yang digunakan berupa hydrogen yang stok sumber daya alam untuk itu sangat berlimpah ruah. Di samping itu, satu hal yang perlu dicatat bahwa material inti pembuatan tehnologi fuel cell ini banyak terdapat di Indoneisia. Artinya, Negara ini menjadi sangat potensial untuk produksi tehnologi ini, bahkan dapat memproduksi material inti tersebut dalam jumlah yang cukup banyak. Berdasarkan uraian yang terakhir itu, maka peran perguruan tinggi di negeri ini menjadi semakin perlu ditingkatkan.
Penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi saat ini masihlah berada di tataran tangga pertama yaitu penelitian dasar. Pada hal, penelitian dasar tentang fuel cell saat ini sudah tidak dimungkinkan lagi untuk mengejar ketertinggalan. Aliran penelitian yang dilakukan oleh Negara maju sudah sampai kepada tangga yang lebih tinggi yaitu untuk kepentingan komersial. Artinya, jika perguruan tinggi masih berkutat di tangga pertama, maka akan menghabiskan waktu, dan bisa jadi, ketika penelitian sudah dilakukan sampai anak tangga tengah, maka perguruan tinggi di Negara maju sudah sampai di anak tangga paling atas. Jika hal itu terjadi, maka sangat penting untuk diperhatikan bahwa Indonesia akan menjadi pasar yang empuk untuk penjualan tehnologi berbasis fuel cell.
Gerak langkah perguruan tinggi harus mampu menekan ketertinggalan ini sampai derajat terendah. Pada dasarnya, pra-kondisi yang selaras dibutuhkan untuk menekan ketertinggalan itu. Tentu saja perguruan tinggi tidak dapat berdiri sendiri untuk mengatasi soal ketertinggalan ini. Perguruan tinggi memerlukan pihak-pihak lain, seperti Kementrian Pendidikan (diknas), Pemda, Swasta, dan Lembaga Penelitian lainnya. Sinergisitas antar berbagai pihak itu mempermudah langkah bagi perguruan tinggi membuat sebuah pendekatan baru guna meneliti tehnologi alternatif fuel cell ini setaraf dengan anak tangga di Negara Negara maju. Apa yang harus dilakukan?
Hasil sementara pengembangan tehnologi alternative fuel cell di Negara maju, sudah mampu menghasilkan energy listrik berdaya 100 KWatt, bahkan ada yang sudah mampu membuat fuel cell jenis oksid pada sekala MWatt. Ini menunjukan penelitian dasar tidaklah cukup menyamakan derap langkah dengan hasil penelitian di Negara Negara maju. Alih tehnologi ini dapat menekan ketertinggalan ini. Mengapa? Setelah perguruan tinggi yang didukung oleh elemen-elemen tersebut di atas membuat terobosan alih tehnologi, maka konsentrasi penelitian berubah, yaitu berada di level pengembangan tehnologi fuel cell jenis oksid pada skala MWatt misalnya. Artinya, penelitian langsung dapat dimulai di tataran yang sama dengan penelitian yang sudah dikerjaan di Negara Negara maju. Barangkali, langkah selanjutnya berkisar pada pengembangan desain fuel cell baru yang lebih hemat dan lebih murah. Hal ini juga merupakan masalah yang sedang dihadapi, dan dicarikan pemecahannya di Negara maju. Adapun demikian, paska alih tehnologi proyek garapan penelitian perguruan tinggi berkisar pengembangan tehnologi alternative fuel cell untuk kepentingan efisiensi. Ini berarti pengembangan fuel cell di perguruan tinggi di Indonesia dapat berdaya saing.
Dengan cara ini, akan menghemat biaya pembangunan teknologi fuel cell. Langkah alih tehnologi ini sangat penting dilakukan se-awal mungkin sebagai upaya mengantisipasi terjadinya proteksi teknologi yang akan dilakukan oleh Negara maju. Untuk itu, perlu sinergisitas berbagai pihak (dalam hal ini adalah Perguruan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Pemda, Swasta, dan Lembaga Penelitian lainnya) agar duduk bersama menyatukan pikiran untuk membuat pendekatan yang mendukung pengembangan tehnologi fuel cell.Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 2005 Tentang Alih Tehnologi, sangat dimungkinkan pihak-pihak tersebut untuk bekerja sama melaksanakan program penelitian dan pengembangan tehnologi alternative fuel cell.
Posted by PODOTEKOO at 10:53 AM 0 comments
Thursday, July 16, 2009
G.M.’s Fuel-Cell Champion to Retire
By Jim Motavalli
It’s hard to imagine the phrase “reinvention of the automobile” being spoken at General Motors’ headquarters without it being connected to Lawrence D. Burns, the company’s vice president for research and development and strategic planning. But Mr. Burns, who was the company’s longtime champion of electric and hydrogen fuel-cell vehicles, is retiring effective Oct. 1, to be replaced by a man he hired away from Ford in 2001, Alan Taub.
Mr. Burns, 58, referred frequently to “taking the automobile out of the environmental equation.” He led G.M.’s hydrogen fuel-cell efforts through a series of increasingly capable concept vehicles, from the Opel-based HydroGen1 in 2000, to the AUTOnomy and HyWire in 2002, to the Chevrolet Sequel, with up to 300-mile range, in 2005.
Project Driveway, begun in 2008, put a fleet of Chevrolet Equinox fuel-cell vehicles on the road in Southern California, Washington and New York City. The company set 2010 as a target for technology that could be ready for the market, but it’s unclear if that goal will be realized.
Mr. Burns, who joined G.M. in 1969, said in a phone interview that his tenure as head of research and development at the company was longer than any executive since Charles Kettering. His departure was voluntary, he said, and is not related to the company’s corporate-level downsizing (though G.M. also announced consolidation of global research and development into product development as part of an effort to build “a leaner, more efficient, more agile” company).
Mr. Burns’s most recent initiative at G.M. was Project PUMA, a two-person city vehicle, developed in collaboration with Segway.
“I started thinking about it when Rick resigned,” he said, referring to G.M.’s former chief executive, Rick Wagoner, who was replaced by Fritz Henderson this year. Mr. Burns said he had worked closely with Mr. Wagoner since the 1990s “and very much admire him.”
“Fritz is an equally capable leader,” he continued, “but I just though it was the right time to make this decision.”
G.M. is still pursuing its hydrogen dreams, but Mr. Burns admitted that the company, which has invested $1.5 billion since the 1990s but is now deeply in debt, “can’t pay for its vision all by itself.” In May, Energy Secretary Steven Chu ordered a $100 million cut in 2010 funding for hydrogen research, a decision Mr. Burns said he hoped will be reversed in Congress.
Mr. Burns also explained that “several generations” of further development are necessary before a national network of pumping stations and affordable vehicles are in place. Fuel-cell cars would have to be sold today for “more than the customer wants to pay,” he said.
Asked to look at G.M.’s fleet in 10 years, Mr. Burns said that gasoline and diesel would still be dominant fuels, but battery cars and “extended-drive” vehicles like the Chevrolet Volt would also be part of the mix. “I think in 10 years they can be very competitive with internal combustion,” he said.
Mr. Burns is writing a book for M.I.T. Press called, naturally enough, “Reinventing the Automobile.” He said he had no other immediate plans, beyond spending time backpacking in the Rocky Mountains with his wife.
He considers another job at an auto company unlikely, though he added he would “never say never.” Academia is a possibility, he said. Mr. Burns’ most recent initiative at G.M. was Project PUMA, a collaboration with Segway on a two-person city vehicle that uses advanced communications technology to help negotiate urban congestion. Mr. Burns said that the “connectivity” aspect of transportation continues to engage him. “When I did my Ph.D research at Berkeley, I found that people bond emotionally with their cars because of the freedom they offer,” he said. “But now my kids would give up their vehicles before their cellphones or PDAs.”
http://wheels.blogs.nytimes.com/2009/07/15/gms-fuel-cell-champion-to-retire/?scp=1&sq=fuel%20cell&st=cse
Posted by PODOTEKOO at 7:05 PM 0 comments
Friday, July 3, 2009
Universities look Flatform Energy Intellectual Overcoming Unemployment
By Ramli sitanggang
Saat ini gaung transformasi penggunan energy sudah sampai pada tahapan yang cukup urgen. Proses penggeseran ini dilakukan dengan berbagai cara, seperti inovasi bahan bakar alternative dan sekaligus tehnolog alternative pengganti tehnologi mesin pembakaran. Belakangan ini, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kebijakan biofuels untuk meningkatkan investasi pada lahan pertanian yang dapat menghasilkan biofuel untuk keperluan rekayasa Bahan Bakar Minyak. Banyak pihak yang bersedia membantu pemasaran biofuel hingga tingkat ritel. Dalam kondisi semacam ini permintaan untuk meningkatkan produksi bahan bakar ini semkin lama semakin besar.
Tentu saja Indonesia dapat mempersiapkan diri untuk kepentingan transformasi tehnologi bahan bakar. Bangsa ini tidak perlu berkecil hati untuk berkreasi dengan bangsa lain dalam melakukan transformasi tehnologi bahan bakar. Mengapa? Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah yang diperlukan untuk pengembangan tehnologi kekinian seperti fuelcell berbasis hydrogen. Ibu pertiwi bangsa ini menyimpan stok uranium atau thorium untuk keperluan itu. berdasarkan fakta ini, Indonesia harus berani mengumumkan niat positif mengubah penggunaan tehnologi bahan bakar minyak menjadi bahan bakar hydrogen.
Bagaimanapun juga bahwa persoalan energy ini memiliki pengaruh yang sangat kuat di hampir seluruh kegiatan ekonomi. Melihat peta jalan energy dunia menunjukan ada proses penguasaan teknologi yang ditandai dengan kehadiran teknologi penghasil bahan bakar alternatif hidrogen. Energi alternatif ini menjadi opsi yang paling kuat untuk menggantikan BBM. Tehnologi ini merupakan salah satu bentuk pencegahan lonjakan harga minyak fosil dimasa datang yang kian lama kian ludes tersedot. Atas dasar ini, banyak negara memprioritaskan tehnologi ini untuk mengatasi penyediaan energy nasional. Konsekwensi logis dari pengembangan yang semakin pesat, permintaan akan tehnologi bahan bakar berbasis hydrogen semakin menunjukan peningkatan permintaannya.
Pertanyaannya selanjutnya, masihkah sektor minyak fosil ini tetap menjadi basis perencanaan energy nasional di tahun-tahun mendatang? Mengingat prinsip efisiensi, tentunya kegiatan ekonomi bertumpu pada basis minyak fosil sudah tidak jamannya lagi. Energy ini akan mengalami stagnasi eksplorasi. Hal ini disebabkan karena stok minyak fosil diperut bumi sudah semakin menipis. Situasi ini mendorong Negara maju cenderung mengalihkan perhatiannya pada energi alternatif dan terus menerus mencari-cari ide kreatif pengembangan energi alternatif.
Perkembangan seputar inovasi energi di negara-negara maju sudah sampai pada pengilangan bahan bakar alternative hydrogen dan methanol yang lebih cepat dari jadwual roadmap dunia. Tentu saja pengilangan hydrogen, methanol mestinya dikembangkan seiring sejalan dengan fuel cell. Memang, untuk yang terakhir diberi perhatian yang sangat serius terutama pada penciptaan tehnologi transportasi yang bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternative hidrogen.
Beberapa dekade yang lalu, tehnologi fuel cell sudah menjadi salah satu program utama pada ranah pendidikan yang secara konkrit dilakukan dengan penelitian secara terus-menerus untuk menghasilkan produk komersial di negara maju. Dan hari ini, sudah banyak negara maju yang memiliki komitmen untuk mempelajari fuel cell secara lebih mendalam melalui penelitian ilmiah yang mendapat prioritas dari negara. Untuk kepentingan ini negara maju berani mengucurkan dana yang relatif tinggi dalam rangka membiayai penelitian di lembaga-lembaga pendidikan. Negara-negara maju sangat menyadari arti penting tehnologi fuel cell untuk masa yang akan datang. Bahkan negara-negara maju mensponsori kompetisi pengembangan teknologi fuel cell ini.
Amerika Serikat baru-baru ini menyediakan anggaran yang cukup besar untuk program pengembangan teknologi fuel cell. Mereka merencanakan hingga 10 atau 15 tahun mendatang dengan target aplikasi tehnologi fuel cell bagi keperluan angkutan umum hydrogen. Untuk tahun depan saja budgetnya yang disediakan untuk pengembangan ini mencapai $68 juta dolar untuk riset seja.
Berbicara perkembangan tehnologi fuel cell Indonesia, terlihat jelas bahwa Perguruan tinggi belum serius melirik lahan garapan ini. Padahal tehnologi fuel cell merupakan salah satu tehnologi alternative yang patut dikelola guna menggantikan BBM dimasa yang akan datang. Ini sangat terlihat dari penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti Indonesia di berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintah dan swasta, bahwa hasil penelitian tehnologi fuel cell belumlah dapat bersaing dengan temuan-temuan kekinian di luar negeri.
Di negara-negara maju, pengembangan tehnologi fuel cell, sudah mampu menghasilkan energy listrik berdaya 100 KWatt, bahkan ada yang sudah mampu membuat fuel cell pada sekala MWatt. Artinya, pengembangan teknologi ini bergulir sebegitu cepat.
Lalu, bagaimana mensiasati ketertinggalan ini? Tidak mungkin mengejar ketertingalan ini hanya mengandalkan pola-pola yang sudah dikerjakan saat ini. Penelitian yang dilakukan saat ini merupakan penelitian dasar. Sedangkan, penelitian yang sudah dilakukan di berbagai Negara sudah bergerak ke arah penelitian tehnologi fuel cell untuk kepentingan komersial. Untuk mengatasi persoalan ketertinggalan ini, satu satunya jalan yang dapat ditempuh Indonesia adalah alih tehnologi dengan mana perguruan tinggi sebagai pilar pengembangannya.
Tentunya penelitian yang berbasis alih tehnologi akan lebih efisien dan efektif, karena langkah selanjutnya berkisar pada pengembangan desain fuel cell baru yang lebih hemat dan lebih murah. Dengan cara ini, akan menghemat biaya pembangunan teknologi fuel cell dan sekaligus berdaya saing. Langkah ini sangat penting dilakukan se-awal mungkin sebagai upaya mengantisipasi terjadinya proteksi dan menopoli teknologi yang dilakukan oleh Negara maju.
Untuk keperluan ini, Pemerintah harus mampu menyediakan kebijakan yang core-nya menempatkan tehnologi alternative berbasi hydrogen fuel cell sebagai salah satu bagian yang strategis. Meskipun, masih banyak tahapan yang ditempuh untuk mengujudkan tehnologi hydrogen fuel cell Indonesia, tentu saja perlu disegerakan dilakukan langkah-langkah praktis untuk menghindari ketertinggalan tersebut dengan alih tehnologi.
Posted by PODOTEKOO at 3:27 AM 0 comments
Friday, June 26, 2009
Newly Uncovered Enzymes Turn Corn Plant Waste into Biofuel
By Steven Ashley
"Visualize three tons of moldy bread." It's not the most appealing image, perhaps, but it's a description of the moist mound of growth media tended by bioscientist Cliff Bradley and his partner, chemical engineer Bob Kearns at their biofuel facility in Butte, Mont., that could help cut ethanol costs at the fuel pump.
Selected soil fungi that eat cellulose—the hard-to-digest, structural component of woody plants—thrive on the big pile of putrefaction from which Bradley and Kearns harvest certain powerful enzymes. The special enzymes allow standard biofuel plants to produce ethanol at lower cost by replacing some of the high-priced corn (starch) they process with cheaper corn stover "waste"—the leaves, stalks, husks and cobs of the maize plant itself.
Replacing 35 percent of the corn (which goes for $4.28 a bushel) now used in a typical ethanol plant with inexpensive corn stover (at $65 per ton) could save a quarter on each a gallon of ethanol the facility produces, the researchers calculate. And that's before any blender's credit or tax benefits from government for processing cellulose. Bradley and Kearns say that the basic integrated starch–cellulose process also works for biofuels produced in Brazil where ethanol is distilled from sugarcane and bagasse, or highly cellulosic cane plant residue.
Supporting development of the promising new technology is Cupertino, Calif.–based AE Biofuels, which has constructed a commercial pilot facility in Butte, where the pair demonstrates their integrated fermentation technology to potential licensing customers. The patent pending process "can be a bridge to cellulosic ethanol," says Andy Foster, executive vice president at AE Biofuels. The use of cellulosic feedstocks effectively enables farmers and producers to squeeze more ethanol from each acre of farmland, he states.
AE Biofuels is one of several companies in the U.S. that is trying to jump-start progress toward greener biofuels made from nonfood feedstocks with high cellulose content. But most of the demonstration efforts have slowed or halted "since the banking meltdown which made it very tough to arrange capital," says biofuels expert George W. Huber, a chemical engineer at the University of Massachusetts Amherst. Despite last year's economic turmoil, however, new pilot cellulosic biofuel plants were opened by KL Energy, Verenium Corp., and POET, LLC, he notes.
For the past few decades, Bradley and Kearns—self-styled "industrial fermentation guys"—have focused on developing effective ways to raise hard-to-cultivate soil fungi that secrete the crucial enzymes. Unlike their competitors, they grow fungi on the moist surfaces of solid nutrient particles. Standard large-scale fermentation processes, in contrast, take place in water-filled tanks. "They put an organism in a tank where everything's in a water solution," Kearns explains, "and then they try to get enough oxygen in there to make the aerobic fungi happy." Rather than "trying to adapt the organism to a desired environment," the two researchers created an environment that suits the organism.
One of the pair's special enzymes readily degrades cellulose and another has the unique ability to break down corn starch at ambient temperatures, a talent that enables existing corn ethanol plants to incorporate cellulosic feedstocks into their standard starch fermentation processes. "The integrated process uses the same equipment, which is important now that capital financing is so hard to get," Bradley says.
http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=corn-biofuel-enzymes
Posted by PODOTEKOO at 6:20 AM 0 comments
Monday, June 8, 2009
Slide Show: The World's 10 Largest Renewable Energy Projects
From wind and wave to sun and trash, a look at how existing power plants are providing electricity generated from renewable sources, on a massive scale
By Christopher Mims
Today, renewable energy sources generate 12 percent of electricity in the U.S. But wind, wave, sunshine and others represent more than 93 percent of the energy the country could be producing, according to the Energy Information Administration of the U.S. Department of Energy.
If renewable energy is going to be a bigger player and have a significant impact in cutting the greenhouse gas emissions from power plants that are driving climate change, it's going to have to grow quickly. According to Princeton University scientists Stephen Pacala and Robert Socolow's "wedge" strategy of climate change mitigation—which quantifies as a wedge on a time series graph various sets of efforts to maintain flat global carbon emissions between now and 2055—at least two million megawatts of new renewable energy will have to be built in the next 40 years, effectively replacing completely all existing coal-fired power plants as well as accounting for increases in energy use between now and mid-century.
"It's a goal that's beyond anything probably the world's ever undertaken," says Keely Wachs, senior director of corporate communications at BrightSource Energy, a company that hopes to build 2,600 megawatts-worth of power plants that use the sun's heat to generate electricity.
http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=10-largest-renewable-energy-projects
Posted by PODOTEKOO at 7:34 PM 0 comments
Sunday, June 7, 2009
Development of Energy Technology and Energy leer Vacant Land Conversion
Pengembangan Teknologi Energi sambil melirik Lahan Kosong Energi Konversi
Ramli Sitanggang
Opini
Pertanyaannya selanjutnya, masihkah sektor minyak fosil ini tetap menjadi basis perencanaan energy nasional di tahun-tahun mendatang? Tentunya untuk menopang kegiatan ekonomi bertumpu pada basis minyak fosil sudah tidak jamannya lagi. Pada masanya nanti, energy ini akan mengalami stagnasi eksplorasi. Hal ini disebabkan karena stok minyak fosil diperut bumi sudah semakin menipis. Situasi ini mendorong Negara maju cenderung mengalihkan perhatiannya pada energi alternatif. Perhatian tehnologi alternatif di skala global terkonsentrasi pada metanol dan hidrogen fuel cell.
Kenyataannya, negara-negara maju sudah melakukan pengilangan bahan bakar alternative hydrogen dan methanol yang lebih cepat dari jadual roadmap dunia. Hal ini ditambah dengan aplikasi tehnologi fuel cell untuk kepentingan transportasi. Tentu saja pengilangan hydrogen, methanol mestinya dikembangkan seiring sejalan dengan fuel cell. Memang, untuk yang terakhir diberi perhatian yang sangat serius terutama pada penciptaan tehnologi transportasi yang bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternative hidrogen.
Beberapa dekade yang lalu, tehnologi fuel cell sudah menjadi salah satu program utama di ranah pendidikan yang secara konkrit dilakukan dengan penelitian secara terus-menerus untuk menghasilkan produk komersial. Dan, hari ini sudah banyak di negara maju yang memiliki komitmen untuk mempelajari fuel cell secara lebih mendalam melalui penelitian ilmiah yang mendapat prioritas dari negara. Bahkan, banyak negara berani mengucurkan dana yang relatif tinggi dalam rangka membiayai penelitian di lembaga-lembaga pendidikan. Apa yang terjadi kemudian? Tentu saja sangat cepat perkembangannya.
Dari peta peta jalan energi dunia ini, tampak jelas kesadaran berbagai negara yang sebegitu tinggi akan arti pentingnya konversi energi, terutama untuk menggantikan persoalan energi berbasis minyak fosil. Inilah salah satu penyebab negara-negara maju mensponsori kompetisi teknologi fuel cell untuk secara bertahap mengaplikasikannya.
Berkaitan dengan perkembangan teknologi ini, Amerika Serikat baru-baru ini menyediakan anggaran yang cukup besar untuk program pengembangan teknologi fuel cell. Mereka merencanakan hingga 10 atau 15 mendatang dengan target aplikasi tehnologi fuel cell bagi keperluan angkutan umum hydrogen. Untuk tahun depan saja budgetnya $68 million untuk riset yang fokus pada pembangunan fuel cell dan $68 million untuk pengembangan teknologi pengilangan hidrogen. Demikian juga Negara jepang, korea serta Negara Eropa. Sementara itu, Negara-negara yang tidak mampu mengikuti laju perkembangan teknologi alternative ini akan menjadi pasar potensial.Berbicara perkembangan tehnologi fuel cell Indonesia, terlihat jelas bahwa pemerintah belum serius melirik lahan garapan ini. Padahal tehnologi fuel cell merupakan salah satu tehnologi alternative yang patut dikelola guna menggantikan BBM dimasa yang akan datang. Ini sangat terlihat dari penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti Indonesia di berbagai perguruan tinggi, lembaga pemerintah dan swasta, bahwa hasil penelitian tehnologi fuel cell belumlah dapat bersaing dengan temuan-temuan kekinian di luar negeri. Jika membuat perbandingan dengan negara maju, maka terasa sangat jauh tertinggal. Di negara-negara maju, pengembangan tehnologi fuel cell, sudah mampu menghasilkan energy listrik berdaya 100 KWatt, bahkan ada yang sudah mampu membuat fuel cell jenis oksid pada sekala MWatt. Artinya, pengembangan teknologi ini bergulir sebegitu cepat, dan faktanya Indonesia jauh tertinggal.
Lalu, bagaimana mensiasati ketertinggalan ini? Tidak mungkin mengejar ketertingalan ini hanya mengandalkan pola-pola yang dikerjakan saat ini. Penelitian yang dilakukan saat ini merupakan penelitian dasar. Sedangkan, penelitian yang sudah dilakukan di berbagai Negara sudah bergerak ke arah penelitian tehnologi fuel cell untuk kepentingan komersial. Untuk mengatasi persoalan ketertinggalan ini, satu satunya jalan yang dapat ditempuh Indonesia adalah alih tehnologi.
Tentunya penelitian yang berbasis alih tehnologi akan lebih efisien dan efektif, karena langkah selanjutnya berkisar pada pengembangan desain fuel cell baru yang lebih hemat dan lebih murah. Dengan cara ini, akan menghemat biaya pembangunan teknologi fuel cell dan sekaligus berdaya saing. Langkah ini sangat penting dilakukan se-awal mungkin sebagai upaya mengantisipasi terjadinya proteksi teknologi yang akan dilakukan oleh Negara maju.
Indonesia adalah Negara yang kaya akan sumber energi seperti angin, matahari, air, batubara, panas bumi dan nabati. Sumber sumber ini diperlukan untuk menghasilkan listrik. Keberadaan ini menunjukkan, selain Indonesia sangat sesuai melakukan secara besar-besaran pengilangan hydrogen juga untuk pengembangan fuel cell. Bahkan, Indonesia dapat dikatakan sebagai Negara yang paling strategis di dunia pengilangan teknologi ini. Berangkat dari pemikiran ini, sangatlah penting bagi pemerintah Indonesia mendorong penguasaan tehnologi agar teknologi hidrogen fuel cell ini dapat sesegera mungkin digarap dan mengapplikasikannya.
Untuk keperluan ini, Pemerintah nampaknya harus mampu menyediakan kebijakan yang core-nya menempatkan tehnologi alternative berbasi hydrogen fuel cell sebagai salah satu bagian yang strategis untuk mempengaruhi langsung atau tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat pada masa mendatang. Bagaimanapun juga, konversi energy ini merupakan sebuah kebutuhan yang berdaya jangkau luas dan berkenaan langsung terhadap hajat hidup orang banyak. Meskipun, masih banyak tahapan yang ditempuh untuk mengujudkan tehnologi hydrogen fuel cell Indonesia, tentu saja memerlukan perjuangan politik praktis untuk menyegerakan aplikasinya. Dan, siapapun yang mau berbakti terhadap bangsa ini lewat aras kepemimpinan nasional 2009 sampai 2014, layak melirik lahan kosong ini sebagai program kensejahterakan bangsa.
Posted by PODOTEKOO at 10:54 PM 0 comments
Monday, May 25, 2009
North Korea Claims to Conduct 2nd Nuclear Test
The North’s official news agency, KCNA, said “The Democratic People’s Republic of Korea successfully conducted one more underground nuclear test on May 25 as part of the measures to bolster up its nuclear deterrent for self-defense in every way as requested by its scientists and technicians.”
The test was safely conducted “on a new higher level in terms of its explosive power and technology of its control,” the agency said. “The results of the test helped satisfactorily settle the scientific and technological problems arising in further increasing the power of nuclear weapons and steadily developing nuclear technology.”
Word of the test sent a shudder through Asian financial markets and clearly caught South Korea and the United States off guard. The news hit just as South Korea’s government and people were mourning the suicide of former President Roh Moo-hyun. And hours after the test was reported, South Korean state media reported that the North had fired a short-range missile.
The nuclear test also came against a backdrop of uncertainty about North Korea’s reclusive leader, Kim Jong-il, and speculation about who might succeed him. Mr. Kim suffered a stroke last August, which prompted him to step up preparations to transfer power to one of his three known sons. Analysts believe the favorite son is his youngest, Kim Jong-un, who is in his mid-20s.
North Korea conducted its first nuclear test on Oct. 9, 2006, which was considered something of a bust by South Korean and American officials. If the North’s second test was more of a success, it could mean that North Korea has bolstered its atomic weapons capabilities — and its leverage over the United States, which has sought to denuclearize the North.
In Washington, the Obama administration had a cautious initial reaction to the news early Monday. “We are aware of the reports of a nuclear test by North Korea,” said a senior State Department official who spoke on condition of anonymity because the department was still gathering information. “We are consulting with our allies. Once we have established the facts, we will have more to say.”
Hints that the North had conducted a test first emerged Monday morning when South Korean authorities detected an artificially triggered earth tremor emanating from the area of Kilju, in northeast North Korea, said Lee Dong-kwan, spokesman of the office of President Lee Myung-bak of South Korea.
The spokesman said “intelligence officials of South Korea and the United States are analyzing the data and closely monitoring the situation.”
Earlier Monday, North Korea announced that Kim Jong-il had sent a message expressing "profound condolences” to the widow of Mr. Roh, who had pursued a more conciliatory policy toward the North. It remained unclear whether Mr. Kim would send a delegation to Mr. Roh’s funeral slated for Friday.
Relations between the Koreas have plunged since Mr. Roh’s successor, Mr. Lee, took office in February 2008, promising to reverse the "sunshine policy" of promoting political reconciliation with Pyongyang with economic aid.
Agreements resulting from a 2007 summit meeting called for the South to spend billions of dollars to help rebuild the impoverished North’s dilapidated infrastructure. Mr. Lee believed that such aid must be linked to improvements in the North’s human rights record and the dismantling of its nuclear facilities.
North Korea has viciously attacked Mr. Lee, calling him a “national traitor,” cutting off official dialogue and reducing traffic across the countries’ heavily armed border.
North Korea had given some advance notice before its first nuclear test, in 2006, and that initial test also was conducted in the northeast.
North Korea had recently threatened to conduct a second nuclear test, citing what it called Washington’s “hostilities.”
The new test comes against a backdrop of heightened tensions between North Korea and the United States, which keeps a heavy military deployment in South Korea.
Two American journalists are scheduled to be tried June 4 in North Korea, charged with illegal entry into the North and “hostile acts,” and that case in particular has aggravated tensions between Pyongyang and Washington. The relationship was already strained by the North’s launching of a long-range rocket on April 5.
After that launch, Washington pressed the United Nations Security Council to tighten sanctions on the North. In retaliation, Pyongyang expelled United Nations nuclear monitors, while threatening to restart a plant that makes weapons-grade plutonium and to conduct a nuclear test.
This month, one day after an American diplomat offered new talks on North Korea’s nuclear program, the North said it had become useless to talk further with the United States.
“The study of the policy pursued by the Obama administration for the past 100 days since its emergence made it clear that the U.S. hostile policy toward the D.P.R.K. remains unchanged,” the North Korean Foreign Ministry said, using the initials for the country’s official name, the Democratic People’s Republic of Korea.
In comments carried by KCNA, the ministry said: “There is nothing to be gained by sitting down together with a party that continues to view us with hostility.”
The rebuff came as Stephen W. Bosworth, the American special envoy on North Korea, began a trip to Asia with a fresh offer of dialogue. The North’s vow to “bolster its nuclear deterrent” came just hours before Mr. Bosworth was due to arrive in Seoul.
The North’s first nuclear test was widely condemned, but it created a new urgency in the six-party talks that had failed to prevent the blast. The parties to the talks are the two Koreas, the United States, China, Japan and Russia.
In February 2007, Washington agreed to ease sanctions against banks dealing with Pyongyang, and North Korea concurrently agreed to a process that would lead to the dismantling of its nuclear weapons program. North Korea would receive deliveries of fuel oil in exchange for certain verifications that it was ending its program.
But last December the process collapsed when North Korea rejected the verification measures being sought by the Bush administration.
Mark McDonald contributed reporting from Hong Kong and Mark Landler from Washington.
news source : http://www.nytimes.com/2009/05/25/world/asia/25nuke.html?_r=1&ref=todayspaper
Posted by PODOTEKOO at 8:47 PM 0 comments
Tuesday, May 19, 2009
Is the Hydrogen Car of the Future Running on Empty?
By Steven Ashley
Slide Show: Take a Tour of Honda's Fuel Cell Car
trons emerge, they recombine with the positive hydrogen ions as well as with oxygen atoms from the air to form water. Water vapor, and not much else, emerges from the tailpipe.Fuel cells hit the road
Finding hydrogen
Posted by PODOTEKOO at 8:17 PM 0 comments
Wednesday, May 6, 2009
Obama Administration Prepares to Push Biofuels
Despite environmental concerns, the president will expedite funding for the ethanol industry
By Ben Geman
The Obama administration announced steps today aimed at improving the coordination of U.S. biofuels policy, increasing investment in next-generation fuels and shrinking the industry's environmental footprint.
At the same time, U.S. EPA is releasing draft rules today showing that corn-based ethanol has lower "lifecycle" greenhouse gas emissions than gasoline but still fails to meet emission targets set by Congress in 2007, EPA Administrator Lisa Jackson said.
The administration is forming a new Biofuels Interagency Working Group that will be led by the secretaries of Energy and Agriculture and the EPA administrator. President Obama is also calling on the Agriculture Department to quicken the pace of programs to support the biofuels industry.
"President Obama's announcement today demonstrates his deep commitment to establishing a permanent biofuels industry in America," said USDA Secretary Tom Vilsack, a former governor of Iowa, a major ethanol-producing state.
The inter-agency group is tasked with developing a "comprehensive" market development program, which would include policies to aid retail marketing and increase production of flex-fuel vehicles.
Another task would be coordinating infrastructure policies that affect supply, transport and distribution of fuels. A recent report [pdf] by the bipartisan National Commission on Energy Policy warned that infrastructure to deliver increasing amounts of fuels is at risk of lagging behind increased production.
The group will also come up with policy ideas for reducing the environmental footprint of growing biofuels crops – considering land use, natural-resource conservation, water efficiency and "lifecycle" greenhouse gas emissions.
The United States produced 9 billion gallons of ethanol last year and is expected to surpass 10 billion gallons in 2009, according to the Renewable Fuels Association, an industry trade group.
A major 2007 energy law expanded the national renewable fuels standard to reach 36 billion gallons annually by 2022. Traditional corn ethanol is limited to 15 billion gallons, and the rest would ultimately come from next-generation sources such as cellulosic ethanol made from crop wastes, grasses and other materials.
Resource: http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=obama-administration-pushes-biofuels
Posted by PODOTEKOO at 10:58 AM 0 comments
Saturday, May 2, 2009
5 Ways to Protect Yourself (and Others) from Swine Flu Swine flu has yet to escalate into a global pandemic, but here's what to do if it does
By Coco Ballantyne
Experts say that the steps you should take to shield yourself from swine flu are not much different than those you might take to ward off seasonal flu.
1. Don't touch your face
Above all, keep your hands away from your eyes, mouth and nose, all of which serve as pathways for the virus to enter your respiratory tract, says Allison Aiello, an epidemiologist at the University of Michigan School of Public Health in Ann Arbor.
2. Wash your hands
If you must touch your face, scrub your hands, getting under the fingernails and inside all crevices, for 20 to 30 seconds with hot soap and water beforehand, Aiello says. "In addition to dislodging dirt that may contain virus particles, soaps contain surfactants [the primary components of detergents] which can damage the lipid [fat] protecting virus particles," she explains. Soap should therefore be effective against all flu viruses.
3. Use a hand sanitizer
No sink nearby? Then use an alcohol-based hand sanitizer, Aiello advises. About a quarter-size spot, rubbed all over the hands until the sanitizer evaporates (usually 10 to 15 seconds), should do it. Alcohol can inactivate viruses by destroying the structure of their proteins, she notes.
4. Cover your nose and mouth
When someone sneezes or coughs, liquid droplets packing flu viruses can travel as far as three feet (one meter) through the air and descend on your nose or mouth, so it's best to maintain at least an arm's-length distance when talking to someone who shows signs of infection, says Louise Dembry, director of epidemiology at Yale–New Haven Hospital in Connecticut. And to protect others, cover your mouth and nose with a tissue when you cough or sneeze, and clean your hands afterward, she says, noting that viruses can remain infectious for hours, if not longer, when they linger on the skin or other surfaces such as keyboards and subway poles.
5. Consider buying a mask in case you need it in the future
From press photos, it seems that Mexico's entire population has donned surgical masks, but the verdict is still out on how effective they are in stemming the spread of flu, according to Aiello. Some research suggests that masks—either the surgical variety or respirators called N95's specially designed to filter out water droplets containing viruses—reduce the risk of contracting the flu or other respiratory pathogens by as much as 80 percent, but research by Aiello's team suggests that masks do little unless used in conjunction with diligent hand washing.
According to the U.S. Centers for Disease Control and Prevention, there is "extremely limited" data on the effectiveness of face masks and respirators for blocking flu spread in communities. The agency suggests, however, that people consider using them when it's impossible to avoid "crowded settings or close contact with others" in areas where swine flu transmission has been confirmed: face masks for crowded places and respirators for situations that involve close contact with people who have respiratory infections (caring for a sick family member, for example).
source of reading : http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=protect-yourself-swine-flu-pandemic
Renungan ; " Siapa diantaramu"
Toba Lake
Posted by PODOTEKOO at 8:02 PM 0 comments
Wednesday, April 29, 2009
Flu Babi Berpotensi Menyebar di Indonesia
Reporter : Sulistiono
YOGYAKARTA--MI: Perkembangan virus H1N1 yang menimbulkan flu babi di lebih mudah terjadi di daerah tropis seperti Indonesia. Virus tersebut juga sangat mungkin menular antar manusia.
Oleh karena itu, pakar virologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Widya Asmara meminta pemerintah memperketat karantina di bandara dan pelabuhan untuk mengantisipasi flu babi (swine influenza) yang kini mewabah di Meksiko.
"Peran karantina di pintu masuk bandara dan pelabuhan sangat penting untuk mendeteksi dan mengantisipasi kedatangan orang dari Amerika Latin dan Amerika Utara yang berisiko terinfeksi virus flu babi," katanya dalam siaran persnya, Senin (27/4).
Peneliti Pusat Studi Bioteknologi itu mengatakan, flu babi pada manusia di Meksiko diduga disebabkan oleh strain baru virus H1N1 yang mirip virus influenza. Kecepatan mutasinya ke manusia sama dengan penularan flu burung. Penularannya bisa melalui kontak langsung maupun kontak dengan bahan-bahan yang tercemar virus.
Namun demikian, katanya, virus flu babi tidak ada kaitannya dengan peternakan babi. Oleh karena itu, untuk sementara peternakan babi di Indonesia masih aman dan belum ada satupun yang ditemukan terinfeksi virus flu babi.
"Saat ini belum perlu ada perlakukan khusus pada peternakan babi. Yang paling penting justru meningkatkan budaya ternak yang sehat seperti saat menangani wabah flu burung," katanya.
Widya mengungkapkan, gejala yang muncul pada penderita flu babi hampir mirip dengan gejala flu burung dan bisa menimbulkan kematian. "Gejalanya seperti sakit kepala, demam, iritasi pada mata, ngilu di seluruh badan dan akhirnya bisa menimbulkan kematian. Tetapi sesak napasnya tidak separah pada penderita virus flu burung," ujar Widya. (SO/OL-01)
Sumber : http://www.media-indonesia.com
---------------------------------------------------------------------------------------
LAGU UNTUK ANDA:
Pilpres 2009 Siapa diantaramu
----------------------------------------------------
Posted by PODOTEKOO at 8:57 PM 0 comments
Labels: capres kampanye koalisi partai pilpres 2009 siapa diantaramu siapa diantarmu
Saturday, April 25, 2009
Memperkuat Kelembagaan Pangan
Senin, 05 Mei 2008 07:43 WIB
Memperkuat Kelembagaan Pangan
Ditulis oleh : Didik J Rachbini, Ekonom
Komunitas global sudah memahami kondisi pangan di banyak negara pada saat ini. Kritis dan mengkhawatirkan sehingga tindakan aksi kebijakan sudah mulai dilakukan. Kekhawatiran yang bermula dari wacana, sekarang masyarakat internasional sudah mulai mengambil langkah kebijakan kolektif bersama untuk mengurangi kekurangan akses pangan dari golongan masyarakat bawah.
Celakanya lagi krisis pangan ini bersamaan dengan krisis energi, yang menyebabkan sektor industri dan ekonomi merosot. Karena sebab-sebab tersebut, tingkat pengangguran dan kemiskinan meningkat. Itu merupakan sebab-akibat, yang saling bertali-temali satu sama lain.
Sistem pangan dunia sebagian bersifat eksklusif karena setiap negara melakukan kebijakan khusus untuk mempertahankan status ketahanan pangan yang optimal. Sumber daya ekonomi, subsidi, kebijakan dan lainnya dikerahkan untuk mempertahankan sistem pangan nasional masing-masing secara optimal karena ketahanan pangan sangat berpengaruh langsung terhadap ketahanan sosial dan politik di negara tersebut.
Pada kasus beras misalnya, setiap negara seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan China melakukan kebijakan produksi untuk mempertahankan sistem pangan nasional masing-masing. Jika ada surplus, sisa tersebut dilempar ke pasar internasional sebagai bagian dari perdagangan sisa (residual trading). Jika harga pasar baik, negara tersebut kebetulan mendapatkan tambahan devisa. Jika harga rendah, sisa surplus tersebut dijual dengan harga dumping.
Sebagian lain dijalankan dengan sistem perdagangan global yang besar, bahkan cenderung bersifat monopoli kartel, seperti kasus kedelai dan gandum. Karena itu, tidak ada perdagangan pangan yang betul-betul bersifat pasar dengan persaingan yang bebas, efisien, dan berdasarkan keunggulan komparatif masing-masing. Produksi pangan dan pertanian global banyak dicampuri tangan negara dan pemerintah.
Sistem tradisional
Berdasarkan perkembangan dan realitas tersebut, sistem ketahanan pangan harus dibangun di atas landasan kelembagaan, kebijakan, dan sistem pasar yang kuat. Tidak bisa kebutuhan pangan nasional terus bergantung pada impor sehingga setiap tahun menghadapi krisis, apakah impor bisa dilakukan atau tidak, mengingat pasar beras internasional hanya memiliki pasokan, yang sedikit.
Sistem pertanian tradisional dengan dukungan jutaan petani adalah sistem produksi massal, yang terbukti efektif untuk menyangga ketahanan pangan sampai saat ini. Tulang punggung pasokan beras nasional bukan dari industri dan bisnis modern, tetapi dari sistem pertanian tradisional, yang sudah berlangsung sangat lama. Bukti sejarah itu harus dikenal dan dipertahankan sebagai basis utama ketahanan pangan nasional, yang utama.
Kelembagaan sistem pertanian tradisional persawahan ini harus diperkuat dengan cara modernisasi dan efisiensi produksi pada level on farm. Sistem irigasi, pengembangan benih dan teknologi, ketersediaan pupuk dan sistem pendukung pertanian tradisional tersebut harus dikemas dengan kebijakan yang tepat dengan implementasi yang cermat tidak hanya oleh pemerintah pusat, tetapi juga pemerintah daerah.
Dengan membangun kelembagaan utama ini, kebutuhan pokok nasional setidaknya dapat dipertahankan. Pemerintah tinggal menambah kebijakan pengembangan tambahan produksi secara modern di luar Jawa sebagai penyangga baru dalam produksi pangan, terutama untuk mengantisipasi harga internasional yang tinggi.
Sistem modern tersebut menjadi pilar kedua untuk pasokan pangan, tetapi juga menjadi pilar untuk masuk ke pasar internasional. Jangan bicara ekspor jika tidak ada basis sistem pertanian yang modern dengan produktivitas, yang tinggi.
Sistem pertanian modern yang dikelola negara mirip BUMN atau swasta sudah diperlukan mengingat pangan global sudah memerlukan lebih banyak lagi pasokan. Sistem tradisional yang selama ini berjalan dapat dilakukan terus untuk menyangga ketahanan pangan dalam negeri.
Bulog dan penyangga
Kelembagaan lainnya yang harus diperkuat adalah Bulog. Pasokan beras dari sawah petani berfluktuasi sesuai dengan musim sehingga pasar menjadi tidak sempurna dan sangat memerlukan uluran tangan negara untuk mengatasi kegagalan pasar pada saat panen raya atau pada saat tanam.
Fungsi Bulog mengatur pasokan dan harga agar tidak terdistorsi jauh sesuai dengan harapan petani dan konsumen sekaligus. Peranan itu sudah dijalankan hampir setengah abad meskipun banyak juga distorsi yang terjadi di Bulog karena penyimpangan oknum maupun sistem di dalamnya. Tetapi peranan sebagai penyangga pangan nasional harus diteruskan dengan pusat pengelolaan pada pangan beras.
Jika diperlukan, peranan Bulog diperluas untuk pangan lainnya, yang mengalami masalah. Tetapi untuk sistem tata niaga yang sudah berjalan dengan baik melalui sistem pasar dan tambahan peran negara secara khusus, Bulog tidak perlu mengambil alih sehingga menimbulkan permasalahan baru.
Tetapi yang jelas peranan negara dalam pangan perlui dijalankan secara efektif mengikuti irama kekuatan pasar sehingga pasokan, efisiensi dan harga mendekati keadaan pasar yang ideal. Bulog dalam hal ini memainkan peranan yang strategis.
Pascapanen tradisional
Sistem pangan masyarakat sudah berjalan berabad-abad dengan umat manusia melalui insting dan akal budinya membangun sistemnya sendiri secara tradisional. Sistem lumbung pangan di Jawa, penyimpanan pangan di masyarakat Baduy dan lainnya adalah kearifan lokal yang baik. Di dalamnya ada kelembagaan untuk mempertahankan sistem pangan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Sistem itu harus dikenali pemerintah dan perlu didukung dengan pengambangan yang baik, bukan dirusak dengan sistem baru, yang tidak dikenal masyarakat tradisional. Banyak potensi sistem ketahanan pangan tradisional, yang harus dilestarikan dan dikembangkan secara lokal sehingga masyarakat memiliki sistem ketahanan sendiri tanpa harus bergantung kepada pemerintah.
Mengapa tidak dibuat modern semuanya? Jawabnya harus realistis, karena Indonesia majemuk dan besar sehingga jangkauan pasar dan negara hampir tidak mungkin mencakup seluruhnya. Karena itu, sistem ketahanan pangan yang mandiri dari masyarakat lokal sangat diperlukan sehingga seluruh sudut bumi Indonesia ini bebas dari kelaparan.
Sumber : http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=168821
Posted by PODOTEKOO at 9:10 PM 0 comments
Caleg Selangkah lebih maju suarakan flatform Energy
Oleh :Dr.Ramli Sitanggang, MT
Caleg adalah calon pemimpin formal di lembaga pemerintahan. Ia benar-benar menjadi pemimpin bangsa ini manakala sah secara hukum ia mendaptkan dukungan yang memadai dan telah ditetapkan secara hukum terpilih sebagai anggota legislative. Kiprah anggota legislative, sangatlah strategis, terutama sekali membuat kebijakan-kebijakan yang menopang serta mendukung kesejahteraan rakyat. Tentu saja pemikiran untuk mensejahterakan masyarakat banyak sudah diformulasikan dalam program-program kampanye oleh caleg atau tim sukses caleg bersangkutan. Apapun ceritanya, apapun kisahnya, apapun coret di atasnya, selalu bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat banyak. Tentu ini ideal.
Akhir-akhir ini caleg melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan berbagi ide yang bertujuan untuk menarik suara pendukung sebanyak banyaknya. Visi misi pun dikemukakan dan program kerja pun tak kalah penting diperdengarkan di sana sini. Tetapi, ada satu hal yang paling penting bagi caleg, yaitu kinerjanya untuk merealisir program-program dan tujuan kesejahteraannya. Pada titik inilah, kiprah caleg harus benar-benar mampu mewadahi aspirasi masyarakat. Yang jelas, masyarakat banyak memerlukan kesungguhan caleg dalam memperjuangkan kesejahteraannya.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa pilihan strategis yang harus diambil oleh caleg dalam upaya mensejahterakan masyarakat luas? Tentu saja segenap usaha mengatasi persoalan bangsa ini perlu didukung, dan diusahakan percepatannya serta diberi fasilitas yang memadai. Realitas menunjukan bahwa murahnya harga sembako sangat membantu masyarakat akar rumput. Pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana terobosan yang membuat harga sembako terus berada di level terjangkau masyarakat akar rumput? Ini yang harus dijawab.
Berdasarkan pengalaman, ada kenyataan yang bertahan bahwa energy punya pengaruh yang kuat untuk menurunkan harga sembako. Mustahil harga sembako murah apabila operasional pengangkutannya dari desa ke kota misalnya, sangat mahal. Satu fakta dan diikuti fakta lain, bahwa ketika harga energy berbasis minyak fosil bensin melonjak tinggi, pastilah mempengaruhi harga sembako. Ini menunjukan persoalan energy sangat terkait erat dengan sembako. Kenyataan yang bertahan ini memerlukan pentingnya penyelesaian persoalan energy nasional. Ketika rekayasa energy yang murah meriah sudah berhasil terealisasi, maka dapat dipastikan akan memberi imbas positif bagi sembako atau sector lainnya.
Lalu, apa idenya? Melihat seputar pemanfaatan dan pengelolaan energy, paling banyak menggunakan energy berbasis minyak fosil. Ini yang perlu disoroti secara intensif berkenaan dengan efisiensi penggunaannya, karena pemenuhan bahan bakar itu didapat dari sumber yang tak terbarukan. Sampai detik ini, energy transportasi, rumah tangga, dan industry melulu menggunakan energy berbasis masih megunakan minyak dan gas bumi. Konsekwensi logis penggunaan energy tersebut meningkatkan kebutuhan energy nasional, karena sector industry, transportasi, dan rumah tangga jelas semakin bertambah banyak. Bagaimana tidak? Kenyataan dilapangan, semakin hari dijalan-jalan semakin terasa sesak kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin dan solar. Ini berarti, kebutuhan akan energy berbasis minyak fosil semakin meningkat dan pemenuhan akan kebutuhan ini harus terus menerus dilakukan. Mengingat pemenuhan harus dilakukan secara terus menerus, maka eksplorasi minyak fosil ditingkatkan dan terus semakin ditingkatkan. Bahkan karena keterbatasan stok domestic akan minyak fosil ini, dilakukanlah importasi besar-besaran. Ketika harga minyak fosil melonjak tajam, mau tidak mau, senang tidak senang, bangsa ini pun terkena imbasnya.
Ilmu pengetahuan dan tehnologi modern saat ini, sebenarnya telah membuat terobosan yang luar biasa terkait persoalan energi. Di Negara-negara maju, sudah mulai merekayasa tehnologi energy dengan mendayagunakan hydrogen sebagai bahan bakarnya. Tehnologi ini disebut dengan tehnologi fuel cell. Tehnologi ini sangat efisien dari aspek bahan bakarnya, ramah lingkungan, terjangkau masyarakat luas. Fuel cell ini, merupakan tehnologi masa depan yang sangat irit biaya pengoperasiannya. Coba bayangkan saja, alat transportasi seperti motor pribadi, mobil pribadi dan angkutan umum berbahan bakar hydrogen, tentu saja sangat irit operasionalnya. Berapa banyak yang dapat diirit oleh Negara ini manakala keperluan energy transportasi, rumah tangga, industry tidak lagi menggunakan energy berbasis minyak dan gas bumi, tentu saja akan menekan biaya yang sangat tinggi.
Inilah waktu yang paling tepat bagi para caleg untuk mulai melangkah lebih maju sebagai calon pengambil kebijakan Negara ini. Memang harus diakui ini adalah program jangka panjang, tetapi, usaha untuk mengatasi persoalan energy harus dilakukan mulai dari sekarang. Negara tetangga Singgapura misalnya, telah berhasil membuat stasiun pengisian hydrogen dan mobil fuel cell dengan bahan bakar hidrogren. Malaysia telah telah berhasil membuat sepeda motor fuel cell ini. Meskipun, mobil dan motor tersebut belum diproduksi secara masal, tetapi, laju perkembangannya akan bergerak ke arah komersialisasi. Pada saat sampai tahapan komersialisasi seperti itu, maka biaya transportasi menjadi murah, keperluan energy rumah tangga pun menjadi murah. Ini berarti harga sembako secara signifikan terpengaruh.
Mengingat waktu yang tidak sedikit dalam pengembangan teknologi penghasil hydrogen dan tehnologi fuel cell, perlu kiranya persoalan energy ini dipikirkan sebagai bagian dari upaya untuk mensejahterakan masyarakat. Saat caleg mulai memikirkan tentang hal ini dan berpikir secara solutif tentang bagaimana mengembangkan tehnologi alternative ini, berarti telah andil dalam upaya mensejahterakan masyarakat. Saat caleg sudah terpilih dan membuat terobosan-terobosan di tingkat suprastruktur politik berkenaan dengan pengembangan tehnologi alternative ini, berarti duakali lebih maju.
Posted by PODOTEKOO at 7:42 PM 0 comments
Labels: capres, kampanye, koalisi, partai, pilpres 2009, siapa diantaramu
Konsistenlah Memburu Energy Alternatif
Dr. Ir. Ramli Sitanggang, MT
Pengalaman tahun tahun yang silam telah membuktikan bahwa kenaikan harga BBM, praktis berimbas terhadap hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Apalagi terhadap persoalan ekonomi bangsa ini, terasa sekali. Ini logis, karena praktis kegiatan ekonomi menjadi lebih mahal ongkosnya dan tidak menentu. Ekplorasi migas bumi yang sebegitu intens mengakibatkan stok yang semakin sedikit jumlahnya, karena bahan bakar ini bukanlah bahan terbarukan. Yang jelas, permintaan akan jumlah migas dunia akan naik terus dikarenakan industri-industri kimia sangat memerlukannya untuk berbagai produk, termasuk industry reforming dunia yang berkembang pesat. Tidak ada kata lain, kecuali akan naik harganya karna akan habis walaupun itu secara perlahan dan tidak sama dengan loncotan permintaan migas bumi. Dalam konteks ini, berbagai solusi sudah direncanakan dan dilakukan pemerintah untuk jangka pendek misalnya konversi bahan bakar minyak tanah menjadi bahan bakar gas bumi (elpiji) untuk menghemat subsidi dan sekaligus menjamin kelangsungan kegiatan ekonomi masyarakat di berbagai sektor. Perlu diketahui walaupun gas elpiji ini merupakan alternative yang sangat memungkinkan sekarang ini tetapi gas ini katagori bahan bakar tidak terbarukan. Artinya ketahanan penyediaan energy dari sisi gas elpiji pun perlu diantisipasi ketersediaannya apakah mampu bertahan sebagai bahan bakar untuk jangka menengah dan panjang ?. Kalau tidak, setelah itu apa lagi yang akan terjadi? Apa solusi yang harus dilakukan kedepan agar tetap pada koridor berkeadilan sesuai UU energi yang telah dibuat pemerintah. Pandangan yang sangat strategik kedepan ini masih relevan melakukan “gerakan penyediaan energi alternative terbarukan“ sesuai dengan peta jalan energi skuriti dunia. Adapun, status bahan bakar saat ini dan konversi bahan bakar cair ke bahan bakar gas elpiji dapat dijadikan sebagai momentum yang tepat membangun paradikma konversi konsumsi bahan bakar dari berbasis migas bumi kepada bahan bakar alternatif terbarukan. Pada kenyataannya, konsep ini sudah terbukti mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan migas bumi di negara negara maju. Inilah yang seharusnya dikembangkan di Indonesia dengan mana Indonesia memiliki sumber bahan bakar alternatif yang melimpah dan sangat potensial untuk mengatasi persoalan energi nasional. Jadi, dalam hal ini konsistensi percepatan pemanfaatan sumber daya energi alternatif menjadi solusi konversi energy yang pasti bukan?. Memang persoalan yang urgen yang perlu dipertimbangkan pada pengelolaan energi alternatif terbarukan, sudah terjadi persaingan dan terus berlangsung hingga hari ini terutama di negara-negara maju, seperti Amerika, Eropah, bahkan Cina dan sebagian negara-negara di Amerika Latin. Persaingan yang sangat tampak lebih condong kepada persaingan teknologinya. Menguasai teknologi energi alternatif terbarukan merupakan target yang harus dicapai oleh negara, terutama sekali untuk proteksi keamanan konversi energi berbasis migas bumi menuju energi alternatif terbarukan. Hal ini juga menjadi pelajaran kedepan untuk memulai melihat peta dunia tentang pengelolaan energi alternatif dan sekaligus pengembangan teknologi yang dapat dioperasikan dengan energi alternatif. Langkah praktis yang bisa ditempuh tentu saja harus secara konsisten mengembangkan teknologi energi alternatif itu sendiri, baik untuk teknologi penghasil bahan bakarnya maupun alat pengguna bahan bakar.
Indonesia sebagai negara yang memiliki SDA yang berlimpah, perlu segera menggarap konteks ini. Konsistensi mengerjakan penciptaan tehnologi sangat diperlukan dengan tidak melupakan pengelolaan yang berkeadilan, berkelanjutan dan terpadu serta berwawasan ramah lingkungan. Mengapa hal ini perlu disegerakan? Sultan Hemangkubuwana X ketika memberi makalah pada ketahanan energi di UPN ”Veteran” Yogyakarta, mengatakan bahwa berkurangnya sumber energi fosil harus bisa mendorong penggunaan energi alternatif lainnya yang bersifat massal, murah dan aman. Beliau menambahkan keperluan energi alternative sangatlah besar tidak dapat ditunda tunda. Target kebutuhan energy, secara rata rata hampir 60% energy pada sector transportasi. Pemenuhan keperluan bahan bakar yang sangat besar ini memerlukan waktu konversi yang lama karena pengadaan teknologi dan penerapannya seperti, modifikasi mesin bakar dan Fuel cell untuk menggantikan bahan bakar migas sampai 100% dengan bahan bakar alternative terbarukan.
Pada masa transisi dari penggunaan bahan bakar migas bumi kepada penggunakan bahan bakar alternatif, pemerintah melakukan prinsip konversi minyak tanah menjadi gas mungkin pengendalian dari stok yang menjadi pertimbangan utama sedangkan harganya tetap mengikuti penurunan harga migas bumi seperti halnya premium dan solar. Kalau harga minyak tanah lebih tinggi dari premium dan solar nampaknya kurang sesuai. Mengapa demikian?, kalau dulu terdengar dieceran minyak tanah dicampur dengan bensin sebelum dijual. Sekarang bisa terjadi bensin dicampur minyak tanah untuk keperluan masak atau bensin dicampur solar untuk menggati minyak tanah keperluan dapur karena lebih murah. Jadi dapat terjadi persoalan lain yang ujungnya pemerintah mengeluarkan biaya untuk pengendaliannya. Selain itu prinsip efisiensi, karena tingkat biaya produksi bahan bakar minyak dan gas bumi nampaknya sangatlah besar. Pemerintah seyogyanya konsisten memberi perhatian yang sangat khusus pada sektor ini. Pasalnya, bahan baku (cude oil) diimport dari beberapa negara. Cude oil tersebut diproses di Indonesia memakai kilang-kilang yang kebanyakan sudah tua, sehingga tingkat resikonya menjadi tinggi. Selain itu, kualitas cude oil sekarang ini tidak menentu. Kalau diproses dengan kilang kilang yang sudah tua, tentu kos produksinya tinggi dan kalau dipaksakan untuk memproduksi BBM, maka resikonya sangat besar. Dalam hal ini, diperkirakan tenaga yang diperlukan untuk pengilangan BBM akan lebih besar berbanding tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif. Jika seandainya pemerintah mempertahankan jalur ini, peluang Indonesia sangat kecil untuk membangun cadangan penyangga energi baik dari segi jenis, jumlah, waktu, dan lokasi cadangan penyangga energi. Harga energi alternatif sulit menentukan nilai keekonomian yang terjangkau dan berkeadilan. Sebaliknya jika, mempertahankan keseriusan untuk membangun teknologi penghasil bahan bakar alternatif, modifikasi mesin transportasi dan pengembangan SPBU BBM menjadi SPBU BBA dan hal ini dilakukan sedini mungkin, maka krisis energi yang mungkin muncul di masa mendatang dapat ditangkis.
Posted by PODOTEKOO at 7:39 PM 0 comments
Labels: capres, kampanye, koalisi, partai, pilpres 2009, siapa diantaramu
Kesadaran Calon Anggota Legislatif Memikirkan Idealisasi Energy Indonesia
Sumber : Majalah Info Kampus
Oleh : Dr. Ramli Sitanggang, MT
Sampai sejauh ini, kesejahteraan sangat berhubungan erat dengan energy. Pengalaman yang sudah-sudah, telah memberi pelajaran berarti kepada bangsa ini, bahwa ketika terjadi kelangkaan energy di tingkat global, maka imbasnya terasa pada level akar rumput. Kelangkaan energy berbasis minyak bumi dunia memaksa negara ini menaikan harga bahan bakar berbasis minyak fosil di area domestic.
Banyak orang berpikir bahwa stok energy terbatas, dan terus menerus berpikir seperti itu. Kelangkaan bahan bakar minyak pun terlihat semakin menipis. Mengapa? Tahun demi tahun, minyak bumi harus terus digali, ditambang hanya semata-mata untuk memenuhi keperluan energy. Pada konteks ini berarti pasokan energy haruslah ada dan terus menerus ada, sehingga kesetabilan pada segmen kehidupan lain dapat terjaga serta aman. Ketika harga bensin yang sudah menurun hingga terendah di tingkat retail, cukup memberikan pengharapan akan aktifitas bisnis yang lebih memadai. Namun, keadaan ini belumlah menyelesaikan masalah nasional tentang energy.
Adapun demikian, harga BBM yang berkisar di Rp 4.500 untuk bensin di tingkat retail sudah cukup membuat lega. Tentu saja ini layak disyukuri mengingat turunnya harga bahan bakar minyak sudah meringankan cost margin masyarakat banyak. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah ini merupakan kondisi ideal dari bangsa ini tentang penyediaan energy? Tentu saja tidak. Apakah kondisi ideal energy nasional ini diukur dengan harga bahan bakar minyak yang rendah? Tentu saja tidak. Nah, kondisi ideal ini perlu dipaparkan di sini sebagai satu bentuk kesadaran untuk segera memikirkan jalan keluar yang diperlukan guna mewujudkannya.
Pertama, Idealisasi energy dalam konteks ini adalah membuat sebuah gambaran tentang bagaimana desain energy berbasis SDA yang benar-benar efisien telah meresab dan merembes penggunaannya di tengah masyarakat. Iptek telah banyak memberitahukan tentang kondisi ideal tentang energy di masa mendatang, di mana setiap orang menggunakan tehnologi paling modern dengan menggunakan desain energy yang sangat efisen.
Di Negara-negara maju, para ilmuan yang telah menemukan banyak hal tentang rekayasa energy yang dapat digunakan untuk kepentingan industry dan rumah tangga. Sedangkan bahan bakar transportasi adalah hydrogen dan methanol yang cukup murah produksinya dan daya jualnya diperkiraan sangat murah pula. Tehnologi ini adalah teknologi energy terbarukan dari sector teknologi fuel cell yang sampai saat ini dinegara-negara maju terus dikembangkan, dan dikembangkan untuk mewujudkan kesempurnaan teknologinya. Sedangkan bahan bakar hydrogen dan methanol pembuatannya tanpa materi berbasis minyak bumi, tetapi menggunakan material energy terbarukan. Inilah nantinya yang membuat semuanya serba efisien. Mengapa ini energy yang ideal? Kita bisa melihat perkembangan penggunaan hydrogen dan methanol semakin tahun semakin tinggi, dan percepatannya pun beranjak lebih tinggi penggunaannya dari minyak fosil.
Ada beberapa tahapan idealisasi penghasil listrik dan bahan bakar alternative. Generasi pertama yaitu Minyak dan Gas bumi, generasi kedua adalah Batubara, Panasbumi dan Uranium/thorium. Generasi ke tiga yaitu Angin, Hidro /Air, gelombang samudera, pertanian dalam arti luas dan sinar matahari, dan generasi ke empat Photolisis, biohidrogen. Berdasarkan runtutan ini, sangalah diperlukan pemahaman akan pengelolaan yang lebih bijaksana dalam pengembangan energy. Mengingat rute pertama pengelolaan energy selalu menggunakan minyak fosil, maka perlu alternative untuk segera masuk ke rute ke dua dan pada akhirnya meninggalkan secara menyeluruh pemanfaatan minyak fosil. Sementara itu, minyak fosil yang ada perlu diarahkan untuk keperluan industry petrokimia. Pada saat transisi sudah terjadi model baru pengelolaan energy mengacu pada desain teknologi penghasil listrik, teknologi penghasil bahan bakar alternative dan teknologi penggunanya serta desain teknologi infra struktur skuriti energi.
Untuk sampai pada generasi selanjutan, tentu saja membutuhkan partisipasi pihak-pihak yang berkompeten. Lalu, siapa saja yang perlu dilibatkan dalam pengembangan energy ini? Policy maker, akademisi, industry, dan pemerhati competency dan investor. Berbagai pihak ini dapat dengan serius bekerjasama membuat satu langkah maju untuk mewujudkan transisi energy menuju generasi ke dua. Dalam hubungannya dengan kesadaran politik, caleg diharapkan mengerti akan keberadaan energy sebagai satu keperluan nasional yang penting, sehingg perlu penyegeraan sebuah perangkat yang diperlukan untuk itu. Sebelum terpilih sebagai wakil rakyat di lembaga legislative, tentu saja perlu memahami peta jalan energy saat ini, dan memahami idealisasi energy yang akan terjadi di masa mendatang. Artinya, caleg haruslah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang energy di masa mendatang. Berbekal pengetahuan inilah perumusan kebijakan negara atau payung hukum terkait dengan enegi dapat mengarah pada laju pengembangan tehnologi penghasil energy terkini dapat terealisasi dengan baik. Konsekwensi logis dari alur ini adalah bahwa caleg tidak semata-mata bekerja untuk mengegolkan diri menjadi anggota legislative, tetapi, juga harus mulai menyerap berbagai pengetahuan yang memadai akan energy guna melakukan langkah-langkah praktis manakala terpilih dan duduk sebagai anggota legislatif.
Posted by PODOTEKOO at 7:31 PM 0 comments
Labels: capres, kampanye, koalisi, partai, pilpres 2009, siapa diantaramu


